BRI SUPER LEAGUE NEWS

Breaking News Portal Olahraga

4/04/26

Joachim Low Siap Comeback! Ghana Tawarkan Kontrak Jelang Piala Dunia 2026

 

Joachim Low Siap Comeback! Ghana Tawarkan Kontrak Jelang Piala Dunia 2026

Joachim Low Dekat Jadi Pelatih Timnas Ghana Jelang Piala Dunia 2026, Siap Terima Kontrak Pendek

Mantan pelatih Timnas Jerman, Joachim Low, dikabarkan semakin dekat untuk kembali ke dunia kepelatihan setelah menjalin pembicaraan lanjutan dengan federasi sepak bola Timnas Ghana. Negosiasi antara kedua pihak disebut telah memasuki tahap lanjut, dengan Low menjadi kandidat terdepan untuk mengisi kursi pelatih yang baru saja kosong.

Federasi Sepak Bola Ghana bergerak cepat dalam mencari pelatih baru setelah memutuskan untuk memecat Otto Addo pada pekan ini. Keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari evaluasi besar menjelang Piala Dunia FIFA 2026, yang sudah semakin dekat.

Dengan waktu persiapan yang terbatas, federasi Ghana tidak ingin mengambil risiko. Mereka mengincar sosok pelatih berpengalaman yang mampu membawa stabilitas sekaligus meningkatkan performa tim nasional dalam waktu singkat.

Nama Joachim Low pun muncul sebagai salah satu kandidat paling kuat untuk memimpin Black Stars pada turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Joachim Low Jadi Kandidat Terdepan

Menurut sejumlah laporan media internasional, federasi Ghana telah menyusun daftar pendek berisi beberapa pelatih ternama yang dianggap mampu membawa perubahan bagi tim nasional mereka.

Dua nama besar yang masuk dalam daftar tersebut adalah Walid Regragui, pelatih yang sukses membawa Maroko mencatat sejarah di Piala Dunia 2022, serta Joachim Low, mantan arsitek kesuksesan Timnas Jerman.

Namun dari dua kandidat tersebut, Joachim Low kini disebut berada di posisi paling depan.

Pembicaraan antara Low dan federasi Ghana disebut berjalan positif. Kedua pihak telah mendiskusikan berbagai aspek kerja sama, termasuk rencana jangka pendek untuk menghadapi Piala Dunia 2026.

Sumber internal federasi bahkan menyebut bahwa kesepakatan antara kedua pihak hampir tercapai.

Siap Terima Kontrak Pendek

Menariknya, Joachim Low dikabarkan bersedia menerima kontrak jangka pendek jika resmi menangani Timnas Ghana.

Kontrak tersebut hanya akan berlaku selama turnamen musim panas, yakni sepanjang gelaran Piala Dunia 2026.

Keputusan ini menunjukkan bahwa Low tertarik untuk kembali merasakan atmosfer kompetisi internasional setelah cukup lama tidak aktif melatih.

Setelah meninggalkan Timnas Jerman pada tahun 2021, pelatih berusia 66 tahun itu belum kembali menangani tim mana pun secara permanen.

Karena itu, kesempatan melatih Ghana di Piala Dunia dianggap sebagai peluang menarik untuk kembali ke panggung sepak bola internasional.

Bersedia Terima Gaji Lebih Rendah

Tidak hanya soal kontrak jangka pendek, Joachim Low juga dilaporkan bersedia menerima gaji yang lebih rendah dibandingkan standar pelatih top dunia.

Pelatih asal Jerman tersebut disebut siap menerima bayaran sekitar 150.000 euro per bulan.

Angka tersebut tergolong relatif kecil jika dibandingkan dengan gaji yang biasa diterima pelatih berpengalaman di level internasional.

Namun bagi Low, kesempatan kembali melatih di turnamen besar seperti Piala Dunia tampaknya lebih penting dibandingkan aspek finansial.

Keputusan ini sekaligus menunjukkan keseriusannya untuk kembali berkontribusi dalam dunia sepak bola internasional.

Rekam Jejak Gemilang Joachim Low

Jika resmi ditunjuk, Joachim Low akan membawa pengalaman luar biasa ke dalam skuad Ghana.

Low dikenal sebagai salah satu pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Jerman.

Ia menjabat sebagai pelatih Timnas Jerman selama 15 tahun, dari 2006 hingga 2021.

Selama periode tersebut, ia berhasil membawa Jerman meraih berbagai prestasi besar, termasuk:

  • Juara Piala Dunia 2014 di Brasil
  • Juara Piala Konfederasi 2017
  • Semifinal Piala Dunia 2010
  • Final Euro 2008

Puncak kesuksesan Low tentu terjadi pada Piala Dunia 2014, ketika Jerman tampil luar biasa dan mengalahkan Argentina di final.

Turnamen tersebut juga dikenang karena kemenangan spektakuler Jerman 7-1 atas Brasil di semifinal, yang menjadi salah satu hasil paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia.

Pengalaman tersebut menjadi alasan kuat mengapa federasi Ghana tertarik merekrutnya.

Tantangan Besar di Timnas Ghana

Meski memiliki pengalaman luar biasa, tugas Joachim Low di Ghana tidak akan mudah.

Timnas Ghana saat ini tengah berada dalam fase transisi dengan banyak pemain muda yang mulai masuk ke dalam skuad utama.

Black Stars juga menghadapi tekanan besar untuk tampil kompetitif di Piala Dunia 2026.

Ghana memiliki sejarah cukup baik di Piala Dunia, termasuk mencapai perempat final pada Piala Dunia 2010, yang menjadi pencapaian terbaik mereka sepanjang sejarah.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, performa tim nasional Ghana mengalami naik turun.

Karena itu, federasi berharap pelatih baru mampu membawa stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas permainan tim.

Walid Regragui Masih Jadi Alternatif

Selain Joachim Low, federasi Ghana juga mempertimbangkan Walid Regragui sebagai kandidat pelatih.

Regragui mendapat reputasi besar setelah membawa Timnas Maroko mencapai semifinal Piala Dunia 2022, prestasi terbaik bagi negara Afrika dalam sejarah turnamen tersebut.

Kesuksesan tersebut membuat namanya sangat dihormati di dunia sepak bola internasional.

Namun laporan terbaru menyebut bahwa peluang Regragui untuk menangani Ghana lebih kecil dibandingkan Joachim Low.

Hal ini karena Low dianggap memiliki pengalaman lebih luas dalam menangani turnamen besar.

Strategi Ghana Jelang Piala Dunia

Dengan Piala Dunia 2026 yang semakin dekat, federasi Ghana berusaha memastikan bahwa tim nasional mereka dipimpin oleh sosok pelatih yang tepat.

Turnamen mendatang akan menjadi Piala Dunia terbesar dalam sejarah, dengan format baru yang melibatkan 48 tim peserta.

Kompetisi ini akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Bagi Ghana, tampil baik di turnamen tersebut sangat penting untuk memperkuat reputasi mereka di sepak bola dunia.

Karena itu, pemilihan pelatih menjadi keputusan yang sangat krusial.

Harapan Baru bagi Black Stars

Jika Joachim Low benar-benar menerima tawaran dari federasi Ghana, kehadirannya bisa menjadi awal baru bagi tim nasional tersebut.

Pengalaman panjangnya di level internasional diyakini dapat membantu para pemain Ghana berkembang secara taktik dan mental.

Low juga dikenal sebagai pelatih yang mampu mengembangkan pemain muda serta membangun sistem permainan yang modern.

Karakter tersebut dianggap cocok dengan kondisi skuad Ghana saat ini yang dipenuhi talenta muda berbakat.

Menunggu Pengumuman Resmi

Hingga saat ini, federasi sepak bola Ghana belum mengumumkan keputusan resmi mengenai pelatih baru mereka.

Namun berbagai laporan menyebut bahwa pengumuman resmi kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat.

Jika kesepakatan benar-benar tercapai, Joachim Low akan kembali ke dunia kepelatihan setelah hampir lima tahun meninggalkan kursi pelatih tim nasional.

Kembalinya Low tentu akan menjadi salah satu cerita menarik menjelang Piala Dunia 2026.

Bagi Ghana, keputusan ini bisa menjadi langkah penting dalam upaya mereka untuk bersaing di panggung sepak bola terbesar di dunia.


Italia Tersingkir Dramatis dari Bosnia, Gennaro Gattuso Resmi Tinggalkan Kursi Pelatih

 

Italia Resmi Pecat Gennaro Gattuso Usai Gagal ke Piala Dunia 2026, Krisis Besar Mengguncang Azzurri

Roma – Timnas Italia resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Gennaro Gattuso setelah kegagalan menyakitkan mereka lolos ke Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), yang menandai berakhirnya masa jabatan singkat Gattuso di kursi pelatih tim nasional.

Keputusan ini menjadi bagian dari rangkaian perubahan besar yang terjadi di tubuh sepak bola Italia setelah Azzurri kembali gagal tampil di panggung Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Italia harus menerima kenyataan pahit setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti dengan skor 4-1 pada partai final playoff Piala Dunia 2026. Pertandingan tersebut sebelumnya berakhir imbang 1-1 hingga 120 menit, meski Italia harus bermain dengan 10 pemain sejak babak kedua.

Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak bagi negara yang pernah empat kali menjuarai Piala Dunia itu.

Kekalahan Menyakitkan di Final Playoff

Laga final playoff yang digelar dengan tensi tinggi tersebut sebenarnya sempat memberi harapan bagi Italia. Azzurri tampil agresif sejak awal pertandingan dan mencoba mengontrol tempo permainan.

Namun situasi berubah ketika salah satu pemain Italia menerima kartu merah, memaksa tim bermain dengan sepuluh pemain dalam waktu yang cukup lama.

Meski berada dalam tekanan, Italia tetap mampu mempertahankan skor hingga pertandingan memasuki babak tambahan waktu. Pertahanan disiplin serta semangat juang para pemain sempat membuat Bosnia kesulitan menembus lini belakang Azzurri.

Setelah 120 menit pertandingan, skor tetap bertahan 1-1, sehingga laga harus ditentukan melalui adu penalti.

Di momen inilah petaka bagi Italia terjadi.

Para penendang Bosnia tampil sangat tenang dan berhasil mengeksekusi penalti dengan sempurna. Sebaliknya, beberapa penendang Italia gagal menjalankan tugas mereka dengan baik. Hasilnya, Bosnia menang telak 4-1 dalam drama adu penalti.

Kekalahan tersebut langsung memicu gelombang kekecewaan besar dari publik sepak bola Italia.

Catatan Hitam dalam Sejarah Sepak Bola Italia

Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 membuat Italia mencatat rekor buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Azzurri kini menjadi negara juara dunia pertama dalam sejarah yang gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun.

Sebelumnya, Italia juga absen pada:

  • Piala Dunia 2018 di Rusia
  • Piala Dunia 2022 di Qatar

Padahal, Italia merupakan salah satu negara paling sukses dalam sejarah turnamen tersebut dengan empat gelar juara dunia pada tahun:

  • 1934
  • 1938
  • 1982
  • 2006

Dalam beberapa dekade terakhir, Italia selalu dianggap sebagai salah satu kekuatan besar sepak bola dunia. Namun dalam enam tahun terakhir, performa tim nasional mengalami penurunan drastis.

Ironisnya, kegagalan ini terjadi hanya beberapa tahun setelah Italia meraih kejayaan di Euro 2020, ketika mereka menjuarai turnamen tersebut dengan mengalahkan Inggris di final.

Kontras performa tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan arah perkembangan sepak bola Italia.

FIGC Resmi Umumkan Pemutusan Kontrak

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mengumumkan secara resmi bahwa kerja sama dengan Gennaro Gattuso telah berakhir melalui kesepakatan bersama.

Dalam pernyataan singkatnya, FIGC menyampaikan apresiasi atas dedikasi Gattuso selama menangani tim nasional.

Federasi juga menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap performa tim dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2026.

“FIGC dan Gennaro Gattuso telah mencapai kesepakatan bersama untuk mengakhiri kerja sama sebagai pelatih kepala tim nasional Italia,” demikian bunyi pernyataan resmi federasi.

FIGC juga menyampaikan terima kasih kepada Gattuso atas profesionalisme dan komitmennya selama menjalankan tugas.

Masa Jabatan Singkat Gattuso

Gennaro Gattuso sebenarnya datang ke kursi pelatih timnas Italia dengan harapan besar.

Legenda AC Milan itu dikenal memiliki karakter kuat serta mentalitas juara yang terbentuk sejak masa bermainnya sebagai gelandang bertahan tangguh.

Sebagai pemain, Gattuso merupakan bagian penting dari generasi emas Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.

Karena itu, banyak pihak berharap ia mampu membawa kembali semangat juara ke dalam skuad Azzurri.

Namun perjalanan Gattuso sebagai pelatih tim nasional tidak berjalan sesuai harapan.

Meski sempat menunjukkan beberapa peningkatan dalam performa tim, Italia gagal menunjukkan konsistensi yang dibutuhkan untuk lolos langsung ke Piala Dunia.

Akhirnya, mereka harus melalui jalur playoff, yang kemudian berakhir dengan kegagalan dramatis.

Krisis Kepemimpinan di Federasi

Kegagalan ini tidak hanya berdampak pada posisi pelatih.

Situasi krisis juga melanda kepemimpinan di tubuh federasi sepak bola Italia.

Tak lama setelah hasil mengecewakan tersebut, Presiden FIGC Gabriele Gravina memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Keputusan Gravina menjadi simbol bahwa kegagalan ini dianggap sebagai tanggung jawab kolektif dalam organisasi sepak bola Italia.

Tidak hanya itu, Gianluigi Buffon, yang menjabat sebagai kepala delegasi tim nasional Italia, juga memilih untuk mundur dari posisinya.

Buffon merupakan salah satu legenda terbesar dalam sejarah sepak bola Italia, dengan lebih dari 170 caps bersama tim nasional.

Keputusan mundurnya Buffon menjadi pukulan emosional bagi para penggemar Azzurri.

Reaksi Publik dan Media Italia

Kegagalan Italia kembali memicu gelombang kritik keras dari berbagai kalangan.

Media Italia ramai menyoroti berbagai masalah mendasar yang dianggap menjadi penyebab keterpurukan tim nasional.

Beberapa faktor yang sering disebut antara lain:

  • Kurangnya regenerasi pemain berkualitas
  • Sistem pembinaan pemain muda yang dinilai stagnan
  • Ketergantungan pada pemain senior
  • Minimnya talenta penyerang kelas dunia

Selain itu, banyak analis sepak bola Italia menilai bahwa federasi harus melakukan reformasi besar-besaran untuk mengembalikan kejayaan Azzurri.

Masa Depan Timnas Italia

Setelah kepergian Gattuso, perhatian publik kini tertuju pada siapa yang akan menjadi pelatih baru Timnas Italia.

FIGC diperkirakan akan segera memulai proses pencarian pelatih yang mampu membawa perubahan signifikan bagi tim nasional.

Beberapa nama pelatih Italia mulai disebut-sebut sebagai kandidat potensial, termasuk pelatih berpengalaman yang memiliki rekam jejak sukses di level klub.

Namun federasi diyakini tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Italia membutuhkan sosok pelatih yang tidak hanya mampu meraih hasil instan, tetapi juga membangun proyek jangka panjang untuk mengembangkan generasi pemain baru.

Tantangan Besar Mengembalikan Kejayaan Azzurri

Mengembalikan Italia ke puncak sepak bola dunia bukanlah tugas mudah.

Sepak bola modern telah berkembang pesat dengan banyak negara baru yang kini mampu bersaing di level tertinggi.

Italia harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut jika ingin kembali menjadi kekuatan dominan.

Beberapa langkah yang dianggap penting antara lain:

  1. Reformasi sistem pengembangan pemain muda
  2. Meningkatkan kualitas kompetisi domestik
  3. Memberikan kesempatan lebih besar bagi pemain muda di Serie A
  4. Memperkuat filosofi permainan tim nasional

Jika perubahan ini dilakukan secara konsisten, Italia diyakini masih memiliki potensi besar untuk kembali bersaing di level dunia.

Harapan Baru bagi Generasi Berikutnya

Meski situasi saat ini terasa sulit, banyak pengamat sepak bola percaya bahwa Italia tetap memiliki fondasi yang kuat.

Negara tersebut masih memiliki tradisi sepak bola yang sangat kuat serta akademi klub yang mampu menghasilkan pemain berkualitas.

Beberapa pemain muda Italia bahkan mulai menunjukkan potensi besar di kompetisi Eropa.

Generasi baru ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung kebangkitan Azzurri di masa depan.


Pelajaran dari Kegagalan

Kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun menjadi pelajaran penting bagi sepak bola Italia.

Negara dengan sejarah panjang dan prestasi besar sekalipun tidak kebal terhadap kemunduran jika tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Bagi Italia, momen ini bisa menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi mendalam dan membangun kembali sistem sepak bola yang lebih kuat.

Pemecatan Gennaro Gattuso menandai babak baru dalam perjalanan Timnas Italia setelah kegagalan menyakitkan menuju Piala Dunia 2026.

Krisis yang melanda federasi, mundurnya sejumlah tokoh penting, serta kekecewaan publik menunjukkan betapa besar dampak dari kegagalan tersebut.

Namun dalam setiap krisis selalu ada peluang untuk bangkit.

Jika mampu melakukan reformasi yang tepat, Italia masih memiliki kesempatan untuk kembali menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam sepak bola dunia.

Azzurri kini menghadapi tantangan besar: membangun kembali kejayaan yang pernah membuat mereka disegani di panggung internasional.

Perjalanan menuju kebangkitan mungkin tidak mudah, tetapi sejarah telah membuktikan bahwa Italia selalu memiliki kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.


Berita olahraga terbaru dan terpercaya: sepak bola Indonesia, Liga Inggris, Liga Champions, transfer pemain, jadwal, hasil, dan prediksi pertandingan setiap hari.

Diberdayakan oleh Blogger.

Facebook SDK

  • https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v9.0

Paul Munster Minta Bhayangkara FC Tetap Fokus Hadapi PSBS Biak pada Laga Penutup Musim BRI Super League 2025/2026

Yogyakarta — Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, menegaskan pentingnya menjaga fokus penuh menjelang pertandingan terakhir musim reguler B...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini


Categories

Postingan Populer

Popular Posts