Tak Ada yang Mustahil di Liga Champions: Dari Bernabeu hingga Lingkar Arktik, Daftar Malam Kelam Manchester City
Jakarta – Kekalahan mengejutkan Manchester City dari klub Norwegia, Bodø/Glimt, di ajang Liga Champions 2025/2026 kembali menegaskan satu fakta klasik dalam sepak bola: tak ada yang benar-benar mustahil.
City tumbang dengan skor mencolok 1-3, hasil yang langsung mengguncang jagat sepak bola Eropa. Di atas kertas, duel ini tampak timpang. Manchester City datang dengan status raksasa Premier League, skuad bertabur bintang, serta reputasi sebagai salah satu tim paling dominan dalam satu dekade terakhir. Sementara Bodø/Glimt hanyalah wakil dari lingkar Arktik, jauh dari sorotan utama sepak bola elite Eropa.
Namun Liga Champions selalu punya cara untuk menertawakan logika.
City, Guardiola, dan Ilusi Kepastian
Manchester City di era Pep Guardiola dikenal sebagai simbol stabilitas dan dominasi. Mereka adalah satu-satunya klub yang mampu menjuarai Premier League empat musim beruntun, serta pernah mengangkat trofi Liga Champions 2022/2023.
Di sisi lain, Bodø/Glimt memang memiliki reputasi kuat di Norwegia dan rutin bersaing di Eliteserien, tetapi tetap tak sebanding secara finansial, kedalaman skuad, maupun pengalaman Eropa jika dibandingkan dengan City.
Justru karena itulah kekalahan ini terasa begitu mencolok. Sebuah pengingat bahwa sejarah, dana besar, dan prediksi pundit tidak selalu menjamin keselamatan di malam Eropa.
Bukan yang Pertama, City Pernah Dipermalukan
Kekalahan dari Bodø/Glimt bukanlah noda tunggal dalam perjalanan Eropa Manchester City. Sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Liga Champions, City beberapa kali mengalami malam-malam kelam yang masih membekas hingga kini.
Berikut deretan kekalahan menyakitkan Manchester City di Liga Champions, seperti dilansir Planetfootball:
1. Real Madrid 3-1 Manchester City (2016)
Bermain di Santiago Bernabéu, City gagal menahan tekanan Los Blancos pada semifinal Liga Champions. Gol telat Madrid memupus mimpi City melaju ke final, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman Eropa masih menjadi jurang pemisah kala itu.
2. Monaco 3-1 Manchester City (2017)
Salah satu kekalahan paling ikonik. City datang ke Stade Louis II dengan keunggulan agregat, tetapi dihancurkan permainan ofensif Monaco muda yang dipimpin Kylian Mbappé. Aturan gol tandang menjadi mimpi buruk bagi City.
3. Tottenham Hotspur 1-0 Manchester City (2019)
Laga dramatis yang diwarnai gol kontroversial Raheem Sterling di menit akhir—yang kemudian dianulir VAR. City tersingkir dengan cara paling kejam, meski mendominasi permainan.
4. Lyon 3-1 Manchester City (2020)
Kekalahan yang sering disebut sebagai malam eksperimen Guardiola. Perubahan taktik yang tak biasa justru dimanfaatkan Lyon untuk menghukum City di perempat final.
5. Chelsea 1-0 Manchester City (2021)
Final Liga Champions yang pahit. City tampil di bawah ekspektasi dan kalah dari Chelsea lewat gol Kai Havertz. Trofi yang sudah di depan mata kembali melayang.
6. Bodø/Glimt 3-1 Manchester City (2025)
Kekalahan terbaru—dan mungkin paling simbolik. Bukan karena skor semata, tetapi karena tempat dan lawannya. Dari Bernabéu hingga lingkar Arktik, City kembali belajar bahwa Liga Champions tak mengenal status.
Liga Champions dan Romantisme Kekacauan
Kekalahan Manchester City dari Bodø/Glimt adalah potret sempurna mengapa Liga Champions begitu dicintai. Di kompetisi ini, sejarah bisa runtuh, raksasa bisa tersungkur, dan klub kecil bisa mencuri panggung dunia—setidaknya untuk satu malam.
Bagi City, ini adalah alarm keras. Bagi penikmat sepak bola, ini adalah pengingat bahwa keindahan sepak bola justru lahir dari ketidakpastian.
Karena di Liga Champions, segalanya mungkin terjadi.

Post a Comment